Kenaikan harga BBM yang secara rata-rata lebih dari 100% membuat daya beli masyarakat turun drastis. Beberapa industri padat karya seperti industri logam, kulit, kayu, dan sepatu banyak yang tutup karena tidak ada demand (permintaan). Pengangguran meningkat tajam. Jumlah orang miskin semakin bertambah dan pertumbuhan ekonomipun tak sesuai harapan.Kebijakan ekonomi hanya berkonsentrasi pada penyelamatan indikator-indikator ekonomi makro. RUU Pajak dianggap sangat memberatkan kalangan dunia usaha. RUU Investasi dan RUU Tenaga Kerja yang sarat pesanan World Bank, hanya mementingkan investor dengan modal besar.
Mimpi buruk perekonomian Indonesia seperti tergambar dalam deskripsi multiplier effect dan tak padunya sistem kebijakan ekonomi kita di atas justru menempatkan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia versi Emerging Market Forum dan Majalah Euro Money. Sebuah penghargaan yang dinilai agak mengejutkan dilihat dari prestasi ekonomi Indonesia yang memble belakangan ini.
Kalangan analis pasar, sebagaimana diberitakan di Media Indonesia Online justru mempertanyakan kriteria apa yang dipakai untuk menilai. Mereka juga mempertanyakan kredibilitas dari lembaga-lembaga yang memberikan penghargaan tersebut.
Sri Mulyani memang dikenal sangat dekat dengan IMF dan World Bank. Sudah jamak kita ketahui bahwa kedua lembaga internasional tersebut tak ingin melepaskan cengkramannya di Indonesia. Maka berbagai cara dilakukan, salah satunya mungkin dengan pemberian penghargaan yang rasanya tak pantas itu. Ilustrasinya seperti yang dilakukan bandar judi di Las Vegas. "Sang bandar" kalau perlu memberikan voucher gratis dua malam untuk seorang penjudi agar mau menghabiskan uangnya di meja judi.
Sekadar dicatat bahwa disamping tak ada prestasi yang membanggakan, Sri Mulyani beberapa saat yang lalu sempat berpolemik dengan Bank Indonesia dan mengeluarkan pernyataan bahwa gerakan anti korupsi bisa ancam pertumbuhan. Ia mungkin berharap dapat "jackpot" di akhir masa kerjanya. Kita tunggu.



